====== PLTU SURALAYA ======

----

===== Latar Belakang =====
Kebutuhan masyarakat Indonesia khususnya akan tenaga listrik terus meningkat, hal ini membuat [[PLN]] sebagai perusahaan penyedia tenaga listrik mencari alternatif sumber tenaga pembangkit listrik yang murah dan berkapasitas besar selain [[PLTA]] (Pembangkit listrik tenaga air) yang  telah ada namun karena [[PLTA]] bersumberkan tenaga air terjun sehingga kapasitasnya menjadi terbatas oleh sumber air tersebut.

Dalam hal ini [[PLTU]] (Pembangkit listrik tenaga uap) dengan [[bahan bakar]] [[batu bara]] menjadi alternatif sumber tenaga [[Pembangkit Listrik]] karena [[Pembangkit listrik]] berbahan bakar minyak terasa mahal.
Untuk itu pada tahun 1982 dibangunlah [[PLTU Suralaya]] [[Unit 1-4]] yang berkapasitas 4 x 400 Mw yang menggunakan [[bahan bakar]] [[batu bara]] dan mulai beroperasi pada tahun 1985 sedang [[PLTU]] [[Unit 5-7]] yang barkapasitas 3 x 600 MW mulai beroperasi  tahun 1995 yang berlokasi di daerah [[Merak]] [[Jawa Barat]].Didalam Pembangkit Listrik tenaga uap ([[PLTU Suralaya]]) diperlukan suatu alat Pembangkit Uap ([[Steam Generator]]) atau lebih dikenal dengan [[unit_1-4:BOILER]].
Adapun Fungsi dari [[unit_1-4:Boiler]] adalah untuk memproduksi uap ([[steam]]) untuk menggerakkan [[unit_1-4:turbin|turbin]]. Proses produksinya adalah dengan penguapan pada [[unit_1-4:boiler#3.2 boiler drum|boiler drum]]. Uap tersebut harus memenuhi standar kualitas tertentu (pressure, temperature dan unsur [[kimia]]) dan juga dari kuantitas (flow dalam ton/jam), sesuai yang dibutuhkan [[unit_1-4:turbin|turbin]] pada saat tertentu (kondisi [[hot]]/[[warm]]/[[cold]]) untuk dapat menghasilkan energi [[listrik]].
